Banjir Bojonegoro akibat ulah manusia ? dalam perspektif geologi.

Banjir didefinisikan sebagai tergenangnya suatu tempat akibat meluapnya air yang melebihi kapasitas pembuangan air disuatu wilayah dan menimbulkan kerugian fisik, sosial dan ekonomi (Rahayu dkk, 2009). Banjir adalah ancaman musiman yang terjadi apabila meluapnya tubuh air dari saluran yang ada dan menggenangi wilayah sekitarnya. Banjir adalah ancaman alam yang paling sering terjadi dan paling banyak merugikan, baik dari segi kemanusiaan maupun ekonomi (IDEP, 2007). Secara sederhana banjir dapat didefinisikan sebagainya hadirnya air di suatu kawasan luas sehingga menutupi permukaan bumi kawasan tersebut. Pada kabupaten Bojonegoro, bencana banjir adalah bencana yang paling sering terjadi dan menjadi siklus yang terus berlangsung saat musim hujan. Penyebab dari banjir yang terjadi di Bojonegoro karena banjir kiriman dari DAS sebelum kota Bojonegoro maupun hujan deras yang mengguyur ketika musim penghujan. Dalam mengatasi banjir tersebut Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melakukan berbagai upaya mitigasi. Dalam Upaya Mitigasi tersebut sebagai geolog harus memiliki metode praktis, cepat, dan murah dalam menganalisis bencana seperti banjir yaitu dengan cara analisis geomorfologi dari semua aspek aspek yang ada yang akan dibahas pada penelitian kali ini.
            Pendekatan yang diambil untuk melakukan analisis daerah bahaya banjir dalam penelitian ini, adalah pendekatan geomorfologi. Penelitian bahaya bencana alam dengan pendekatan geomorfologi telah dilakukan oleh beberapa peneliti lain seperti Gunadi (2009), Djunire (2009), maupun Rafiuddin (2010). Aspek bentuklahan yang dianalisis adalah aspek geomorfologi. 
Analisa Aspek Geomorfologi

3.3.1 Morfologi :
Morfografi : DAS Bojonegoro didominasi oleh bentuk dataran, Sungai berkelok kelok atau sungai bermeander, memiliki bentukan bottle neck pada tubuh sungai
Morfometri : DAS Bojonegoro bagian tengah sampai Utara memiliki kelerengan relatif datar dan pada bagian selatan memiliki kelerengan yang sedang.

3.3.2 Morfoganesa
Morfostruktur Aktif : Tidak berkembang
Morfostruktur Pasif : Berupa Satuan tak terkonsolidasi dan memiliki resistensi lemah.
Morfodinamik         : Erosi dan deposisi secara horizontal atau proses fluviatil

3.3.3 Morfoasosiasi

Dari apa yang dilihat sepanjang DAS bngawan solo kabupaten Bojonegoro ini digunakan untuk lahan pemukiman dimana sebenarnya didaerah daerah tersebut memiliki tingkat kerawanan banjir paling tinggi.

Dalam analisa banjir menurut aspek geomorfologi pada DAS Bengawan Solo kabupaten Bojonegoro ini disimpulkan karena merupakan sungai bermeander dan memiliki bentukan bottle neck dimana juga DAS Bojonegoro memiliki kelerengan yang datar serta diperparah dengan penggunaan lahan sepanjang aliran sungai menjadi pemukiman. Oleh karena itu banjir Bojonegoro merupakan banjir yang terjadi akibat faktor alam bukan manusia. Untuk itu sebagai warga Bojonegoro yang hidup didaerah bencana harus diberikan pembelajaran siap siaga bencana dan pemberian skill sederhana sejak dini seperti cara berenang dsb.












Gambar Citra Google Earth DAS Bengawan Solo Daerah Bojonegoro  (Capture by Arhananta)

DAFTAR PUSTAKA

               Arhananta dkk, 2017. Area Zonation for The Application of Rain Harvesting Method in Structural Mitigation Flood at the Watershed of Bengawan Solo Bojonegoro District. Prosiding Seminar Nasional Kebumian FTM UPN "Veteran" Yogyakarta ke XII. Yogyakarta

Dewan.,M.,A., dkk., 2007, Evaluating Flood Hazard for Land Use Planning in Greater Dhaka of Bangladesh Using Remote Sensing and Gis Techniques, Water Resour Manage, Springer Science

             Diposaptono, S., 2005. Bencana Alam (Penekan Pada Bencana Air). Bahan penyusunan RUU Penanganan Bencana. Hlm 1-2

             Douglas., I., et al., 2010, Urban fluvial flooding : a qualitative case study of cause, effect and nonstructural mitigation, Journal of Flood Risk Management, United of Kingdom

             Gunadi, A, S, A., 2009, Analisis hubungan antara hubungan penggunaan lahan dan bentuklahan diwilayah bandung utara dan kajian resiko bencana alam vulkanik, Faperta IPB, Bogor (Tidak dipublikasikan)

             Haifani. M.A., 2008, Aplikasi Sistem Informasi Geografis untuk penerapan Sistem Manajemen Resiko Bencana Di Indonesia, Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi

             Harjadi,2002, Aplikasi Penginderaan Jauh dan SIG Untuk Penetapan Tingkat Kemampuan Penggunaan Lahan (KPL), (Studi kasus di DAS Nawangaon Maskara, Saharanpur-India)

             Hardjowigeno., S, 2003, Ilmu Tanah, Akademika Pressindo, Jakarta Hundecha., Y dan Bardossy., A., 2004, Modelling of the effect of land use changes on the runoff generation of a river basin through parameter regionalization of a watershed model, Journal of hydrology

              Lillesand, T. M., dan Kiefer R. W. 1994. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

              Pramulya, Muhammad. 2010. Analisis Daerah Bahaya dan Resiko Banjir Berdasarkan Karakteristik Geomorfologi dan Aplikasinya Untuk Evaluasi Tata Ruang Kota Sintang

Komentar

  1. Good jobs.. Pak Nan. Kalau boleh belajar sama Bpk.. Alhamdulillah.. Ohya disamping aspek geologis dan geomorfologi, juga mungkin perlu ditambahkan dari aspek sipil terkait tata ruang kota dan penggunaan lahan, mitigasi bencana geologi perlu adanya sudut pandang secara prespektif dan intensif kepada masyarakat umum. Guna penambahan pengetahuan mereka.Salam

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer